Pengakuan Maria Zaitun

Tags

, , , ,

Perempuan itu melangkah terhuyung-huyung dari kerumunan orang banyak. Tapak kakinya telanjang. Mulutnya sibuk berkicau, tak hirau pada sekelilingnya. Orang ramai yang duduk berkerumun pun tak ada yang tergerak untuk memintanya diam. Mereka yang diam. Entah terpesona, entah karena pantatnya terpaku di tanah. Tubuh perempuan itu sebentar limbung ke kiri, sebentar ke kanan. Napasnya naik turun, mengikuti gerak badannya yang meliuk mengikuti gerak tangannya. Rambutnya dibiarkan jatuh tergerai, tak peduli beberapa helai menimpa mukanya yang menyimpan sengsara dan mulai menua.

Maria Zaitun, ia menyebut namanya. Seorang pelacur yang tak lagi mampu menjadi mesin pencetak uang bagi induk semangnya membuatnya terusir dari rumah pelacuran. Tubuhnya tak mulus lagi, dipenuhi borok dan digerogoti sipilis. Pada dokter langganan ia mencari pertolongan meski hanya suntikan vitamin C yang didapatnya karena hutang berobatnya yang kemarin-kemarin saja tak dapat dibayarnya. Bagaimana mau membayar jika tabungannya saja penuh hutang? Continue reading

Selamat Jalan Ibu Laksamana

Tags

, , , ,

Aku terbangun di pagi pertama Agustus saat ayam jago masih betah menghangatkan kepalanya di balik ketiaknya. Dua hari di ujung Juli pikiranku tak beraturan membuat hati sedikit meragu. Ada yang ingin dijumpai tapi tak tahu kepada siapa hasratnya bersua.

03.00 – angka yang terpampang di layar gawai. Tak bisa segera tidur kembali, jemari perlahan menyusuri linimasa dan menemukan kabar yang membuat ujung mata memanas dan basah. Kabar itu diberi penanda pk 23.19 dan baru terbaca sekitar tiga jam kemudian.

Ibu … terlalu cepat pergimu
belum sempat kita meneruskan bincang
akan hasrat tuk berjalan bersama ke Benteng Inong Balee
engkau pergi dalam diam
membuat pagiku meleleh Continue reading

Si Cupak dari Turki

Tags

, , , ,

Ketika Portugis menguasai Malaka pada 1511, lalu lintas dagang antar samudera pun mengalami sedikit peralihan. Untuk sampai ke barat, jalur lada yang sebelumnya melalui Laut Merah dan Tengah, berpindah melewati Tanjung Harapan yang memberikan keuntungan bagi Portugis yang juga menduduki wilayah di Afrika Selatan itu. Tak ingin berhadapan dengan Portugis di pelabuhan Malaka, kapal-kapal asing itu memilih untuk memutar jalur melewati Sumatera. Kabar baiknya adalah, pelabuhan-pelabuhan di Sumatera menjadi ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari Arab, Cina, India, Jawa, Melayu; termasuk juga kapal dagang Eropa.

meriam secupak, museum nasional, turki di aceh, pentas dongeng teater koma

Selama Portugis menduduki Malaka, Aceh beberapa kali menyerang Malaka. Aceh yang sedang ranum sebagai penghasil lada, merica, dan emas, menjadi buah bibir di kapal-kapal dagang asing. Karenanya dalam setiap pelayaran, mereka pun berkeinginan untuk menghampiri pelabuhan dagang yang ada di ujung utara Sumatera itu. Pada masa itu, Aceh masih terpecah-pecah dalam kerajaan-kerajaan kecil dengan dua pelabuhan terkenalnya yang menjadi incaran para pedagang asing: Pasai dan Pedir (sekarang Pidie). Portugis tentu saja ikut melirik dan sempat menguasai Pasai hingga diusir oleh pasukan Ali Mughayat Syah yang diyakini sebagai pendiri Kesultanan Aceh dan yang pertama kali menggempur serta membuat armada Portugis kocar-kacir di perairan Malaka. Continue reading

The Light of Aceh

Tags

, , , ,

Memasuki pertengahan 2016,  pada Sabtu (18/06/2016) lalu Disbudpar Aceh meluncurkan logo baru promosi wisata Aceh; The Light of Aceh atau Cahaya Aceh. Didominasi warna oranye dan kuning, melihatnya yang terbayang adalah suasana ramadan.

Sebagai salah satu daerah wisata bernafaskan Islam di Indonesia, tahun ini Aceh ditargetkan oleh Kemenpar untuk menjadi destinasi wisata halal. Karenanya, filosofi logo baru yang dibuat pun tak lepas dari akar tersebut.

the light of aceh, cahaya aceh, visit aceh 2017, branding baru aceh Continue reading

Menjumpai Teuku Umar

Tags

, , , ,

Malam ini kami sampai di sini. Tak jauh dari tempat Teuku Umar dimakamkan.

Langit seolah menangisi peristiwa ini … lama aku tak mendengar desah hujan sederas dan sehalus ini selama hampir setahun. Tak biasa memang. Sepanjang Banda Aceh – Meulaboh .. nafasku beberapa kali tertahan, dan hampir-hampir lupa aku hembuskan kembali. Begitu memukau langit dan isi hamparan di sepanjang pelupuk mata memandang. Apa yang tersimpan di balik ini semua? Entah ..

monolog cut nyak dien, sha ine febriyanti, cut nyak dien, teuku umar, makam teuku umar

Sha Ine Febriyanti pada pementasan monolog Cut Nyak Dien di Teater Kecil Jakarta, TIM (16/01/2016) lalu

Teuku, Teuku Umar ..  nama yang selalu kugaungkan di setiap panggung perempuan yang dulu pernah menjadi kekasihmu. Continue reading

Nafas Tanah Rencong

Tags

, , , ,

Tuhan selalu punya caraNya sendiri yang menakjubkan ketika menghadiahkan kejutan yang terkadang dirasa sebagai ketidaksengajaan kala ditilik dari nurani sebagai manusia. Salah satu ketidaksengajaan itu (kembali) terjadi beberapa hari yang lalu di Gudang Buku, gerai buku bekas di Plaza Festival (dulu dikenal dengan Pasar Festival), Jakarta.

Rencananya pagi itu saya HANYA mampir sebentar ke Pasfes karena ada keperluan ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke satu tempat pertemuan. Usai dari ATM, saat melirik waktu pertemuan masih sedikit lama, saya pun iseng mengayun langkah ke Gudang Buku. Tujuannya tak lain HANYA untuk cuci mata. Ternyata, dari sekadar HANYA itu, dalam 5 (lima) menit duduk iseng di depan salah satu rak membuat hati kegirangan dan ujung mata sedikit memanas saat menemukan dua buah buku tentang Aceh terselip di antara ribuan buku yang dipajang di dalam gerai itu. Continue reading

Potret IBU

Tags

, , ,

Taklah lengkap rasanya bila bertutur sebuah cerita tanpa disertai dengan gambar sebagai pelengkap kisah. Demikian halnya saat menuliskan kisah IBU, lama kelamaan sering ada yang bertanya; seperti apa raut muka beliau? Adakah yang pernah merekam kesehariannya? Atau, hanya bisa direka-reka dari penggambaran kisah yang dituliskan oleh para pengelana yang telah lebih dulu ada, mendengar tentangnya serta bersua dengannya?

lukisan malahayati, laksamana malahayati, lapangan blang padang

Lukisan di gerbang Lapangan Blang Padang, Banda Aceh

Menyelami jejaknya lambat laun dapat mengenal lebih dekat seperti apa sosok yang membanggakan itu. Tak dinyana, dalam beberapa kesempatan ketika sedang berjalan ke satu destinasi; acap tak sengaja menjumpai potret IBU. Continue reading

Generasi Tualang Masa

Tags

, , , , , , ,

Secangkir hazelnut panas baru saja terhidang di atas meja tempatku mengaso di sebuah kedai coklat di Banda Aceh. Malam beranjak pekat. Dirinya datang memberi salam lalu duduk sesuka hatinya di bangku di seberang meja. Rambutnya keriting, tubuh mungilnya menggelembung terbungkus jaket tebal, dan mulutnya tiada henti berceloteh tak beraturan meski kantuk menggantung di matanya. Pendengaranku kurang peka pada setiap kata yang mengalir dari bibirnya, caranya bertutur  dan berbincang dengan abangnya membuatku tersenyum. Sesekali aku mengggodanya, membuatnya mencibirkan bibir dengan mata tak lepas dari mainan yang ada dalam genggamannya. Ketika tiba waktunya kami harus berpisah, tetap tak banyak yang kami bincangkan namun dengan bersemangat dia memberi salam perpisahan sembari melambaikan tangan,”Daaaaaaag.” Kantuknya sudah tak tertahankan, matanya mengerjap-ngerjap, membuat muka polosnya semakin menggemaskan.

Dua bulan berlalu, mendadak ada panggilan pulang ke Aceh. Kami pun bersua lagi di kedai kopi di jantung Banda Aceh. Masih di jelang pekatnya malam, dirinya diajak ayahnya menemani ke kedai. Abangnya tak turut, “Dia baru bangun tidur, dari pada berantem, yang satu diajak jalan,” kata sang ayah ketika kulihat dirinya sedikit rewel. Tetap tak banyak bicara, hanya memainkan mata dan memonyongkan mulut ketika digoda. Keritingnya? Masih sama. Continue reading

Pulang

Tags

, , , , , , ,

Setelah menunda-nunda selama dua tahun, Oktober lalu akhirnya pulang juga ke Nanggroe. Pulang tanpa pamit pada siapa pun. Aku takut menjawab tanya bertubi yang kan digelontorkan kenapa ingin bersendiri ke Nanggroe? Kenapa mendadak? Kenapa dan berjuta kenapa lainnya yang akan menyusul setiap kenapa. Pulang setelah tak tahan lagi menahan kerinduan yang luber kemana-mana. Pulang tanpa mengatakan kepada siapa pun ke mana aku akan pergi, tidak juga dirimu yang masih saja senang menyepi. Aku hanya ingin menikmati bersendiri, menautkan kembali rindu yang berulang kutampik hadirnya. Rindu yang menggulirkan tetes air yang memanas di sudut mata saat pandangan menyapu biru lautmu, hijau bebukitanmu dan riang air di sungaimu dari udara.

IBU ….
Kata yang terucap saat kembali kuhirup napasmu yang kau hembuskan lewat belaian udara pagi. Sepatah kata yang merontokkan semua emosi yang tertahan selama ini. Hingga bendungan pertahanan itu pun meluapkan airnya yang menderas di pipi di jelang pesawat yang membawaku menjejak di bumimu. Continue reading

Surat untuk Nay

Tags

, , , , ,

Saya bukanlah pengamat film yang baik, dengan kesepuluh jari tangan dapat dihitung berapa kali dalam setahun kaki ini melangkah ke bioskop. Bagi saya, duduk diam di dalam gedung pertunjukan menyelami permainan karakter di atas panggung atau turut bergirang ketika menonton konser paduan suara lebih menarik. Namun, perjumpaan dengan seorang sahabat yang berbagi kisah seorang kawan perempuan yang terzalimi; ditambah pertemuan dengan pemeran Nay dalam sosok yang berbeda serta melihat senyum Mama Ben semalam, menggerakkan hati untuk membuat ulasan tentang #filmNay di sela tumpukan deadline di atas meja.

filmnay_11

Nayla Kinar diperankan oleh Sha Ine Febriyanti

Pagi itu saya sedang bersendiri menikmati hening di Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh saat mendapati kepastian hadirnya #filmNay di bioskop. Continue reading